Minggu, 22 Januari 2012

Fatmin

Fatmin adalah Enbal yang dibuat dengan campuran Kelapa auat Gula, yang setelah dibungkus dengan daun pisang kemudian dipanggang di atas api yang membara.

Bila Fatmin ini dibuat dengan memakai gula, maka dapat dimakan sebagai hidangan sore untuk teman minum teh.

Sedangkan untuk sajian makan siang, cara pembuatannya tidak memakai gula, dan dapat dimakan dengan berbagai variasi sayur-sayuran seperti Aruan sir-sir, dan sebagainya.

Fatmin ini juga baik sekali untuk dijadikan bekal dalam perjalanan jauh.

Dalam gambar terlihat Fatmin bersama-sama dengan Enbal goreng, Baubes serta Bubuhuk, yang diletakkan diatas Nyiru untuk sajian makan keluarga di siang dan malam hari.

Sedangkan kalau makanan ini disajikan untuk acara upacara-upacara adat lainnya, maka cara penyajiannya adalah berlainan dengan cara penyajian untuk makan keluarga sehari-hari.

Bubuhuk

Bubuhuk adalah Enbal yang digongseng diatas wajan panas dengan tidak mempergunakan minyak.

Biasanya Bubuhuk ini dicampur dengan garam dan kelapa parut, lalu sewaktu memasaknya dibentuk seperti kue dadar gulung.

Dalam gambar kita temukan bubuhuk yang terlihat bulat, bersama-sama dengan Enbal goreng, Fatmin serta Enbal Tutupola.

Bubuhuk kalau dimakan dengan sayuran Aruan sir-sir, juga lebih enak kalau disertai ikan bakar.

Dalam gambar yang disajikan ini adalah untuk kepentingan makan keluarga sehari-hari, yang tentunya akan berlainan dengan cara penyajiannya pada waktu upacara-upacara, atau acara-acara adat lainnya.

Bubuhuk ini juga sering dipakai sebagai teman minum teh apabila sewaktu pembuatannya diberikan sedikit gula.

Dengan demikian buhuk tadi fungsinya sudah sama dengan kue dadar gulung, yang biasanya dikonsumsikan sebagai jajanan.

Bubuhuk ini juga sama dengan sejenis makanan yang ditemukan di daerah Maluku Tengah yang namanya Sinoli.

Sabtu, 21 Januari 2012

Makanan dan Upacara-Upacara di Maluku Tenggara

Untuk Daerah Maluku Tenggara ini terdapat beberapa macam upacara-upacara baik yang berhubungan dengan adat, maupun keagamaan dan lain-lain.

Upacara-upacara dimaksud adalah antara lain :
Upacara membangun rumah, Upacara Tel Wunan, Upacara Perkawinan, Upacara turun tanah, Upacara Refnear, Upacara Tahlilan, Upacara pengucapan syukur.

Beberapa dari upacara-upacara tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Upacara Perkawinan.
    Pada saat seorang gadis dipinang oleh seorang pria, maka pihak pria akan membayar harta kepada pihak si wanita yang mana harta itu terdiri dari : Lela, Gong, Gelang Emas, dan Piring Tua (bingan Ta-te-en).
Sedangkan si gadis yang menerima harta itu harus memberikan makanan kepada pihak laki-laki dan biasanya terjadi yang disebut "BERIASAN". Yang dimaksud dengan beriasan adalah nilai makanan yang diberikan oleh pihak wanita kepada pihak pria lebih tinggi nilai ekonominya, jika dibandingkan dengan yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak wanita.
Ketika harta kawin ini diantarkan oleh pihak pria kepada pihak wanita, maka wanita yang dipinang tersebut harus memberikan kain untuk alas lela kepada si pemikul lela tersebut sebagai kain alas batu.
Awal dari pada saat pernikahan harus diadakan upacara yang dikenal dengan sebutan "Buk Mam". Buk mam adalah upacara makan sirih pinang dimana antara yang wanita dan yang pria saling suap menyuap. Makanan yang harus mutlak ada dalam upacara perkawinan ini ialah yang dinamakan Langar, yaitu makanan yang terbuat dari tepung enbal yang digongseng, kemudian diberi santan, gula merah, lalu digoreng dalam minyak panas dalam bentuk berjari.
Maksud dari pada bentuk jari ini untuk melambangkan persekutuan yang tidak bisa dilepaskan lagi atau saling kait-mengkait. Pada zaman dulu biasanya tamu-tamu yang hadir itu dijamu di tikar. Lama kelamaan dengan adanya kemajuan teknologi, orang mulai tahu tentang penggunaan meja, barulah meja dipergunakan.
Tempat musyawarah bagi perkawinan itu disebut dalam bahasa daerah sebagai "SIR NGALAWAR TOFAT KAFA AT".

2. Upacara Kelahiran.
Setelah terjadi suatu persalinan, maka si ibu dan bayinya tidak diperkenankan untuk keluar rumah sampai dengan bayi tersebut berumur 40 hari. Pada saat bayi tersebut berumur 40 hari, maka diadakan upacara turun tanah. Upacara ini dalam bahasa daerah dikenal dengan nama "NDOK YAF TOD TOD". Pada upacara ini biasanya diadakan sajian khusus kepada orang yang telah menolong persalinan tersebut. Adapun makanan yang disajikan dalam upacara tersebut adalah : enbal, ubi jalar, ubi kembili, pisang, telur ayam dan lain sebagainya.
Telur ayam sebagai lambang dari bayi yang putih, halus serta harus dijaga sebaik-baiknya. Untuk dukun yang menolong persalinan itu diberikan hadiah kain kebaya serta uang.
Dalam upacara tersebut juga dipanggilkan sebanyak 40 anak yang berumur antara 1 sampai 9 tahun untuk bersama-sama ibu dan bayi yang baru lahir itu untuk makan bersama di rumah orang yang baru melahirkan itu.

3. Upacara Kematian.
Dalam upacara kematian ini yang paling berperan ialah saudara laki-laki pihak ibu (paman, Oom).
Sebelum saudara laki-laki pihak ibu itu tiba di rumah duka, maka mayat tidak boleh dikuburkan. Ini yang disebut disasi atau dihawer, juga termasuk dalam pengertian ini mayat tidak boleh dimandikan.
Dihawer ini biasanya memakai daun kelapa putih yang berarti disucikan, sedangkan upacara kematian ini dinamakan Wi-in.
Makanan tidak disajikan pada saat-saat kematian sebagai tanda ikut berduka cita.
Dengan pengaruh agama yang masuk baru untuk yang beragama Islam diadakan selamatan (Tahlilan), sedangkan yang untuk yang beragama Kristen diadakan Malam Penghiburan.
Dalam acara-acara inilah baru dihidangkan makanan. Pihak keluarga yang ditimpa kedukaan tersebut harus membayar harta kepada paman yang telah melaksanakan penguburan tadi.

4. Upacara Refnear.
Refnear adalah salah satu bentuk upacara yang diadakan untuk memperbaiki kembali hubungan antara dua orang atau dua keluarga yang tadinya saling bermusuhan. Upacara refnear ini mutlak harus dilaksanakan apalagi jika antara kedua belah pihak semasa bermusuhan sudah saling sumpah menyumpah.
Dalam upacara ini makanan yang disediakan itu, mutlak harus ada hewan bagi yang beragama Kristen harus menyediakan babi, sedangkan untuk yang beragama Islam harus menyediakan kambing.
Bisa ditambah dengan ayam dan kerbau bagi yang mampu. Makanan yang disediakan dalam upacara ini harus dimakan oleh pihak-pihak yang saling bermusuhan itu untuk menandakan bahwa mereka telah kembali bersekutu. Dalam bahasa daerah hal ini dinamakan : "MOA ET DUK DAAR" yang artinya kurang lebih adalah : "Mari Makan Bersama".
Setelah selesai makan bersama, maka kedua belah pihak harus memegang ujung-ujung dari daun kelapa putih, sambil berdoa bersama dan dilanjutkan dengan keduanya menarik ujung daun kelapa putih sampai putus. Hal ini menandakan bahwa perselisihan di antara mereka telah selesai dan perdamaian telah berada kembali bersama-sama dengan mereka.
Pada saat yang sama seorang laki-laki dewasa melepaskan sebuah anak panah ke udara sampai hilang sebagai tanda kemarahan telah dihapuskan.
Kelanjutan dari upacara tersebut adalah kedua pihak harus berkumur dari air yang sudah disediakan di dalam sebuah pasu, yang mana air tawar, dicampur dengan air jeruk asam, asam.
Setelah keduanya berkumur, maka airnya ditampung di pasu lain. Acara berkumur ini dimaksudkan untuk melambangkan mereka berdua telah mencuci semua kata-kata sumpahan yang pernah dikeluarkan pada saat mereka masih bermusuhan dulu.
Air bekas kumuran tadi harus dibuang ke laut atau di tengah lautan biru yang luas.

5. Upacara Refnep.
Upacara ini adalah satu bentuk upacara yang dilakukan untuk menghapuskan aib yang terjadi bila terjadi suatu perzinahan antara pihak-pihak yang masih mempunyai hubungan darah (keluarga) seperti : Ibu dan anak, paman dan kemenakan, atau bibi dan kemenakan. Upacara yang satu ini agak lain daripada upacara-upacara lain. Upacara ini ditandai dengan penghancuran segala hasil makanan yang berada di kampung itu biasanya yang menghancurkan itu adalah Teabel seperti yang di Maluku Tengah disebut Pela, dari kampung dimana orang yang berzinah itu berada. Hal ini dilakukan karena dianggap bahwa dari makananlah timbul perzinahan itu.
Kemudian dibuatlah sebuah rumah kecil, lalu kedua orang yang terkena persoalan itu dimasukkan ke dalamnya, kemudian rumah itu dibakar dengan didahului menarik keluar orang tersebut.
Sebagai tindak lanjutnya maka hubungan antara kedua orang tersebut harus dibatalkan.
jika tidak dibatalkan maka hukum yang akan berlaku bagi mereka yaitu mereka harus ditenggelamkan ke dalam laut.

Enbal Goreng

Dalam gambar terlihat Enbal goreng, yang dihidangkan bersama-sama dengan Baubes dan Fatmin diatas Nyiru untuk jamuan makan keluarga pada siang atau malam hari.

Enbal goreng ini biasanya disangrai diatas wajan panas tanpa menggunakan minyak, dan fungsinya sebagai pengganti nasi.

Biasanya Enbal goreng ini dimakan dengan ikan, sayur-sayuran, serta lain-lain variasinya.

Bisa juga dimakan sebagai jajanan, apabila diberikan sedikit kelapa parut dan gula.

Juga sebagai hidangan pengantar minum teh di sore hari atau di pagi hari.

Selain itu Enbal goreng ini dapat juga dijadikan variasi berbagai macam makanan, baik untuk jajanan ataupun untuk keperluan lainnya seperti keperluan upacara-upacara lain.

Enbal goreng ini sama dengan sejenis makanan lain dari sagu yang dinamakan Karu-karu, yang juga dapat dibuat variasi dari berbagai macam makanan lain.

Tutupola

Enbal Tutupola ini seperti yang sudah diuraikan adalah terbuat dari Lalun yang dibakar didalam bambu.

Sesudah matang, maka dikeluarkan kemudian dipotong-potong serong. Adapun fungsi dari pada Enbal Tutupola ini adalah sebagai makanan pokok.

Selain itu, Enbal Tutupola juga dapat dipergunakan untuk dijadikan bekal dalam perjalanan jauh, ataupun sebagai bahan makanan yang dapat disimpan untuk keadaan darurat.

Bentuk dari pada Enbal Tutupola ini adalah Jajaran Genjang, dan amat keras. Oleh karena itu bila dimakan, maka harus dicelupkan kedalam teh sore, atau pada saat sarapan di pagi hari.

Lalun

Lalun yang diperoleh sesudah selesai Enbal diparut dan diperas, maka hasilnya seperti yang terlihat pada gambar ini.

Untuk dijadikan bermacam-macam makanan dari Enbal ini, biasanya Lalun ini dijemur terlebih dahulu.

Sesudah itu Lalun ini diayak, baru dapat dijadikan makanan yang terbuat dari Enbal ini.

Sering orang juga membuat kue-kue dari Lalun ini. Kalau di daerah Jawa, Lalun ini dapat kita samakan dengan yang kita kenal dengan nama Gaplek, dan biasanya dipergunakan sebagai bahan untuk membuat kue-kue atau biskuit, dan lain sebagainya.

Proses Lanjut Dari Pada Enbal Untuk Menjadi Lalun

Setelah diparut, maka Enbal tadi dimasukkan kedalam karung, lalu diberikan pemberat untuk ditindis, dan diperas agar airnya keluar.

Seperti terlihat dalam gambar, Enbal yang sudah diparut sedang diperas supaya keluar airnya.

Biasanya diperas demikian selama kurang lebih 8 jam, sesudah itu maka ampas yang tersisa inilah yang dinamakan Lalun.

Air yang diperas keluar dari Enbal yang sudah diparut itu mengandung Asam Sianida. Dan ini yang sering membuat adanya rasa pahit pada singkong atau Enbal tersebut.

Enbal Sedang diparut untuk dijadikan Lalun



Enbal untuk dijadikan Lalun, yang akan menjadi bahan dasar untuk segala macam makanan yang terbuat dari Enbal ini. Dalam gambar nampak seorang ibu sedang memarut Enbal untuk dijadikan Lalun itu.

Biasanya sebelum diparut, Enbal atau singkong ini dicuci dan dikupas terlebih dahulu, kemudian diparut dengan parudan yang biasa dipergunakan untuk memarut kelapa. Stelah diparut, maka hasil parutan tadi diproses lebih lanjut, untuk kemudian terjadi Lalun itu.

Rabu, 18 Januari 2012

Latar Belakang Sejarah Terbentuknya Ohoi Sumlain-Woma El Furle

Pada masa ratusan tahun silam terjadi perpindahan penduduk dari pulau ke pulau bahkan dari tempat lain ke tempat lain akibat dari kejadian atau peristiwa, seperti : Bencana alam, peperangan, penyakit wabah, kesalah pahaman antar marga/keluarga, dan lain sebagainya.

Pada saat gunung api di Banda Naira meletus, Moyang bernama WA Le atau Nama lain FURLE pindah dari sana mencari pulau/tempat yang aman. Dan sampailah dia di Kei Besar (Yut), mendarat dan bermukim disuatu tempat bernama HOAT LAI yang kemudian dinamakan kembali HOLLAT, pernyataan kepindahan moyang FURLE tersebut sebagai berikut :
"FURLE WADAN DAT N'UUK LOR
LOR FEL IT, LOR NGIAR BUT
BA NTAI VAL WA HO HO"
Ia bermukim disitu dengan keluarga - yang adalah Marga FALAV, memperoleh seorang putra Namanya "SUM". Bertahun-tahun bermukim disitu dan pada suatu ketika terjadilah bencana alam/abrasi hingga kampungnya tergenang air laut. Lalu kemudian berpindahlah SUM FALAVdengan keluarga ke Kei Kecil (Nuhu Roa). Singga di Pulau DAAR, disitu berjumpa/ditemukan sebuah perahu dengan awaknya sementara berlabuh.... ditanya dari mana asalnya, mereka menjelaskan bahwa mereka berasal dari kepulauan ARU (YAR). Maka mereka menamakan Warga tersebut RUMYAR. Disitupun ada pula marga RUMHENG.

Mereka bersama-sama tidak bisa bermukim di Daar oleh karena disitu tidak aman, apalagi disitu sudah ada penghuni yang adalah orang-orang KOVYAI (NISYAV). Mereka berlayar menyusuri pesisir timur Nuhu Roa menuju selatan dan berbelok ke arah barat pesisir laut Nuhu Roa melewati Tanjung Doan-Yanko selanjutnya berbelok mengikuti pesisir barat sebelah utara tanjung doan berpasir (WIRIN)- WIRIN HETWA.

Beberapa lama mereka bermukim disitu, dan berpindah lagi ke tempat lain pada Dataran Tinggi dibagian utara pemukiman sebelumnya - tempat ini kemudian diberi nama "HAVAT". Tidak lama kemudian muncul pula satu keluarga yakni - RAHAWARIN (Rumahnya - RAHAN RUSFALI) asal KASUVA (VARVUT)-karena kesalahpahaman/pertikaian terjadi didalam keluarganya/marganya. Marga Falav menunjuk tempat bagi mereka-di bagian sebelah barat HAVAT untuk mereka bermukim. Tempat itu dinamakan "FOL". Mereka diterima marga Falav menjadi marga bersaudara (RAHAN LE KAFWAR).

Sesudah itu tiba pula seseorang yang berasal dari Toyando - namanya BAL MANLAIN KATATUBUN. Dia diterima oleh marga Falav dan diberi tugas dan fungsinya - Tukang Tipar (manehen). Setelah tinggal beberapa lama di Havat, marga falav mengutus marga Rumyar dan Kaatubun berpindah ke selatan dari petuanan ini untuk menjaga batas petuanan dari marga Falav, yaitu 'Petuanan Ded Kot Varat Soin Wahan Rat"- berbatasan dengan Wirin Hetwa. Ditentukan batas petuanan untuk dijaganya yaitu dari Hoar Vut sampai dan dengan Vat Yaha Vav - Dari Selatan ke Utara. Sedangkan Marga Falav bersama Rumheng berpindah pemukiman ke Utara Barat - Malel Samsamang - dan - Ngur Mar I untuk Marga Falav, sedangkan Rumheng di-El Karatat - Ohoi Rot.

Marga Rahawarin pun berpindah ke - Vat Rukut - Fa Ye - Yar Ler - Suwaak (pemukimannya dinamakan BULWADAN, Womanya - UT KA'BU) - perkampungan Marga Rahawarin ini letaknya Kurang-Lebih 1 Km dari pantai.

Setelah beberapa lama moyang SUM FALAV bermukim di Ngur Mar I, maka diutusnya lagi marga Rumheng ke Pulau UR untuk menjaganya. Setelah itu Sum Falav berjalan memeriksa/menyelidiki Petuanan tanah Ded Kot Varat bagian utara yang berbatasan dengan Tanah Petuanan Ohoiren - Ohoi Balsin - keterangan pernyataannya sebagai berikut :
"SUM EN OR NFATLAAR NI NUHU
N'IT VAL VAL LO
BOK BOK SU NTAI SU RAT SOIN VAV
BA N'IT VAL VAL LO"
Dipilihnya tempat pemukiman baru di Sebelah Utara dari Ngur mar I dan dijadikan pemukiman. Pemukiman baru inilah yang dinamakan "OHOI SUMLAIN" Womanya "WA LE atau FURLE -adalah nama moyang SUM yang berasal dari Banda Neira (Wadan).

Selanjutnya dibaginya Petuanan Ded Kot Varat Soin Wahan Dat kepada Rumyar dan Soin Wahan Vav kepada Rahawarin Rusfali. Setelah itu berdatangan marga-marga lain :

Pertama : Munculnya MANKIL dari Ohoinangan Kei Besar (Yut) - seorang dari Ketujuh bersaudara - (Yang tertua dari ketujuh bersaudara tersebut adalah TAFITIK). Mankil hendak melewati Ohoi Sumlain, namun marga Falavubun mengenalinya dan meminta kepadanya agar datang bersama tinggal di Sumlain dengan pernyataan permintaannya sebagai berikut :
"BA DO U EF, U EF KEN NING LOR
LOR TERAN IM DO FO I TES TE JAD
TE JAD FO NMAT"
Diberinya sebidang tanah dekat perkampungan/Ohoi Sumlain sebelah selatan bernama FID TAFOI kepada Mankil menjadi miliknya. Kepada Mankil diberikan kekuasaan dan
Jabatan DIR U HAM WANG, dengan pernyataan sebagai berikut :
"YAF NAMDIR HOAR NTUBUR
NTUBUR KABA KOT, MDIR U VEL LO
KAILUV DUAN MDIR U VEL LO
MDIR U MEL TI MLENAN KABA YAF
MDIR U VEL LO"
Adapun nama Rumah/Rahan Falavubun adalah LERWA, namun Karena Mankil telah diterima di Ohoi Sumlain maka nama Rumah Falavubun diserahkan kepada mankil, bertanda bahwa diserahkannya kekuasaan penuh kepada Mankil.

Kedua : Masuknya Marga Elsoin berasal dari Ohoi Mantilur/Ohoi Lilir. Asal mula mereka adalah dari ohoi VA'AR (Kei Besar). Kehadiran marga Elsoin ini diterima oleh Marga Falavubun dan diberinya Fungsi dan Jabatan "LEB MITU DUAN". Barang Bawaan Marga Elsoin adalah MITU VAT FEN, diletakan di Ohoi Sumlain bagian belakang. Nama Rumah (Rahan) Marga Elsoin adalah RAHAN TALI. Nama Pria dan Wanita Adalah:
  • Nama Pria/Baranran : SOSO VIHI TAL
  • Nama Wanita/Vatvat : KARIT FAHAI LA'AI, TUK NAM FAHAI BAW

Setelah terhimpun beberapa marga bersama marga Falavubun di Ohoi Sumlain, maka tersusunlah Tiga (3) kelompok Warga yang disebut "UB I TEL". dan masyarakatnya disebut "SUM LA RATUT".
Kemudian datang pula satu keluarga yaitu RAVUL yang berasal dari KOLSER. Diterima oleh marga Falavubun dan diberi fungsi "FALO SAIR VUVUN" (Pemancang/Pengibar Bendera). Nama Rumah/Rahan Marga Ravul - adalah TAI LE TAI YAL.

Adapun Marga Rahawarin/Rahan Rusfali di Ohoi Bulwadan Woma Ut Kabu berdampingan dengan Marga SOR'UBUN - Rahan LERSOB - Tugas dan Fungsinya adalah 'FU FARIAK RUBIL SONGAIT", dan Tur-tur Maraman. Setelah marga Sorubun Rahan Lersob punah, maka warga Falavubun memanggil Marga RAKBAV dari UR PULAU untuk mengganti Sor'ubun - dengan diberikan tugas dan fungsinya adalah "Penunjuk jalan/Perintis, Maraman, Fufu Fariak Rubil Songait". Dari Ur Pulau mereka membawa MITU HIL yang dinamakan HIL UR, ditempatkan di pinggir Ohoi Sumlain sebagai Penunggu. Marga Rakbav tidak berdomisili di Ohoi Sumlain-Woma El Furle, melainkan tinggal di Hutan - tempat tinggal mereka bernama OHOI KAIN/FARAWAT.

Pada masa penjajahan Belanda diadakan kerja Bakti (Herendienst), maka Marga Rahawarin dan Marga Rakbav datang bergabung dengan marga lainnya yang telah ada di Ohoi Sumlain - Woma El Furle demi melaksanakan perintah yang dikeluarkan oleh PEJAWAT dan tetap tinggal bersama di Ohoi Sumlain sampai sekarang. Marga Rahawarin terpaksa meninggalkan Ohoi Bulwadan - Woma Ut Ka'bu, datang tinggal bersama Rahan Le Kafwar-nya Rahan Lerwat (Marga Falavubun) bersama marga lainnya.

Pada Tahun 1958, karena perkembangan masyarakat, maka dibukanya lagi satu kampung/Ohoi diatas - Oleh Bpk. A.J.Ngamel - sehingga sekarang terdapat dua (2) wilayah Pemukiman yaitu : Kampung Atas dan Kampung bawah.

Petuanan ohoi Sumlain dengan Petuanan Ded Kot Varat adalah:
  • Sebelah Utara : Petuanan Ohoiren dari Pantai barat (Samdu'u ke Timur - Lutur Ngam Niru - Wear Vait - Hoar Ngunit - Hoat Surbay.
  • Sebelah Selatan : Vat Yaha Vav - Havat lair Tutu - menujuh ke Timur - Fa'nat - Der Ngiar - Sibang Mas Ni Tunat Dokdok.
  • Sebelah Timur : Ded Kot Timur/Ded Ingrat - Tanat Sibangmas,
  • Sebelah Barat : Lautan.



Nara Sumber : A. J. Ngamel

Rabu, 11 Januari 2012

Nicholas Steno

Nicholas Steno (1638-1686)

Meskipun karir ilmiah relatif singkat, kara Nicholas Steno pada pembentukan lapisan batuan, dan fosil ang dikandungnya sangat penting untuk pengembangan geologi modern. Prinsip-prinsip ia menyatakan terus dugunakan saat ini oleh ahli geologi dan paleontologi.

Steno lahir sebagai Niels Stensen, tapi dia lebih dikenal dengan nama bentuk Latinized, Nicholas Stenonis atau Nicholas Steno. Berasal dari Kopenhagen, Denmark, Steno meninggalkan Denmark pada 1660 untuk belajar kedokteran di pusat terkemuka untuk pendidikan medis, Universitas Leiden di Belanda. Setelah menjalankan tugas singkat di Paris dan Montpelier, ia pindah ke Florence, Italia pada 1665 Studinya di Anatomi menarik perhatian Grand Duke dari Tuscany, Ferdinand II, yang juga pelindung ilmu. Duke Ferdinand ditunjuk Steno ke pos rumah sakit yang membuatnya cukup waktu untuk penelitian. Steno juga terpilih untuk Accademia del Cimento (Eksperimental Akademi), sebuah badan peneliti terinspirasi oleh pendekatan Galileo eksperimental dan matematika untuk ilmu pengetahuan.

Studi anatomi steno terfokus pada awalnya pada sistem otot dan sifat konstraksi otot - misalnya, ia menggunakan geometri untuk menunjukan bahwa otot berkonstraksi berubah bentuk tapi tidak volumenya. Namun, pada oktober 1666, dua nelayan menangkap hiu besar dekat kota Livorno, dan Duke Ferdinand memerintahkan kepala untuk dikirim ke Steno. Steno membedah dan mempublikasikan hasil penemuannya pada 1667. Gambar di kanan menunjukkan angka
yang diterbitkan oleh Steno kepala dan gigi hiu. Sementara memeriksa gigi hiu, Steno dikejutkan oleh kemiripan mereka ke obyek berbatu tertentu, yang disebutglossopetrae atau "batu lidah," yang ditemukan dalam batuan tertentu. Otoritas kuno, seperti penulis Romawi Pliny the Elder, telah menyarankan bahwa batu-batu jatuh dari langit atau dari bulan. Yang lain berpendapat, juga akan kembali ke zaman kuno, bahwa fosil secara alami tumbuh di bebatuan. Steno kontemporer yang Athanasius Kircher, misalnya, disebabkan fosil dengan "kebajikan lapidifying tersebar melalui seluruh tubuh geocosm itu." Steno, bagaimanapun, berpendapat bahwa glossopetrae tampak seperti gigi hiu karena mereka gigi hiu, yang datang dari mulut hiu yang pernah hidup, dan datang untuk dikubur di lumpur dan pasir yang sekarang lahan kering. Ada perbedaan dalam komposisi antara glossopetrae dan gigi hiu yang hidup, namun Steno menggunakan "teori sel hidup dari materi", pendahulu dari teori atom, berpendapat bahwa fosil dapat diubah dalam komposisi kimia tanpa mengubah bentuk mereka.

Kesimpulan steno mungkin tampak begitu tampak jelas sebagai tidak signifikan, Selanjutnya, Steno bukanlah orang pertama yang link "batu lida" dengan gigi ikan hiu. Steno yang sezaman Robert Hooke dan John Ray juga berpendapat bahwa fosil adalah sisa-sisa organisme yang pernah hidup. Naturalis Italia Fabio Colonna telah menyatakan bahwa "batu lidah" itu gigi hiu dalam sebuah buku yang diterbitkan pada 1616, dan lain-lain telah melihat kesamaan bahkan sebelumnya. Namun, penting untuk diingat bahwa gigi ikan hiu, beberapa fosil lain seperti kerang dan siput relatif muda, adalah "fosil muda" - mereka menyerupai organisme hidup sangat erat. Sebuah fosil banyak sekali tidak terlihat seperti organisme hidup akrab sama sekali. Mereka mungkin dipertahankan dalam cara yang tidak biasa, mereka mungkin hanya mewakili bagian atau fragmen dari organisme, mereka mungkin milik taksa punah; dan / atau rekan-rekan hidup mereka mungkin belum terbiasa atau tidak dikenal. Dalam waktu Steno, dalam kenyataannya, kata "fosil" bisa berarti apa saja digali dari Bumi. Naturalis tidak selalu membedakan antara "fosil" yang mirip organisme hidup, dan "fosil" yang mirip organisme hidup, dan "fosil" seperti kristal dan bijih yang melakukan bentuk dalam bumi. Untuk semua alasan ini, perbedaan antara yang benda yang ditemukan di batu-batu itu dan tidak - organisme hidup - jika, memang, salah satu dari mereka - sama sekali tidak jelas pada abad ke tujuh belas.

Steno bekerja pada gigi hiu menuntunnya ke pertanyaan lebih umum tentang bagaimana setiap benda padat bisa datang dapat ditemukan di dalam benda padat lain, seperti batu atau lapisan batuan. Para "tubuh padat dalam padat" yang menarik minat Steno sudah termasuk, tidak hanya sebagai fosil kita akan mendefenisikan mereka hari ini, namun mineral, kristal, intcrustations, urat, dan bahkan seluruh lapisan batuan atau strata. Steno ide tentang bagaimana dapat membentuk diterbitkan pada 1669, dengan judul De solido intra Solidum naturaliter Contento dissertationis prodromus atau wacana pendahuluan untuk disertasi tentang suatu benda padat secara alami terkandung dalam solid. (judul buku sering hanya di singkat Prodromus).

Dengan asumsi bahwa semua batuan dan mineral dulunya fluida, Steno beralasan bahwa strata batuan dan deposito serupa terbentuk ketika partikel dalam fluida seperti air jatuh ke bawah. Proses ini akan meninggalkan lapisan horisontal. Jadi prinsip steno dari negara horinzontalitas asli yang membentuk lapisan batu dalam posisi horizontal, dan setiap penyimpangan dari posisi ini adalah karena batuan terganggu nanti. Steno menyatakan prinsip lain, lebih umum dngan cara ini:

Jika suatu benda padat yang tertutup pada semua sisi oleh tubuh lain yang solid, dari dua tubuh yang pertama menjadi keras yang, dalam kontak saling, mengunkapkan di permukaan sendiri sifat permukaan lainnya.

Dengan kata lain: benda padat akan menyebabkan padatan yang terbentuk di sekitar nanti agar sesuai dengan bentuk sendiri. Steno mampu menunjukkan dengan alasan ini yang fosil dan kristal harus memiliki dipadatkan sebelum batuan induk yang berisi mereka dibentuk. Jika "batu lidah" telah tumbuh di dalam batu, itu akan menjadi distorsi oleh batuan sekitarnya, dalam banyak cara yang sama bahwa akar pohon terdistorsi oleh tumbuh ke dalam celah bumi. Sebaliknya, "batu lidah" pasti telah dimakamkan di sedimen lunak yang kemudian mengeras. Vena (mineral-diisi retak) dan kristal banyak, di sisi lain, harus memiliki terbentuk, setelah batu sekitarnya yang solid, karena mereka sering menunjukkan bentuk penyimpangan yang disebabkan oleh harus sesuai dengan batuan padat di sekitarnya. Ini, Steno berpendapat, harus tumbuh dari cairan meresap dalam bumi, dengan cara yang sama bahwa kristal dapat dibuat untuk tumbuh dalam eksperimen kimia. Akhirnya, dalam kasus strata, lapisan di atas serangkaian strata sesuai dengan bentuk lapisan yang lebih rendah....... dan karena itu, dalam satu set strata, lapisan termuda harus mereka diatas, dan yang tertua harus terletak di bagian bawah. Kesimpulan ini juga mengikuti dari penalaran Steno yang membentuk strata batuan ketika partikel jatuh keluar dari suspensi dalam cairan - tetapi juga berlaku untuk batuan yang tidak membentuk cara ini, seperti batuan beku banyak. Hal ini sekarang disebut sebagai hukum steno dari superposisi: lapisan batuan yang disusun dalam urutan waktu, dengan tertua di bagian bawah, dan termuda dibagian atas, kecuali proses nanti menggangu pengaturan ini. Ini adalah kontibusi Steno paling terkenal untuk geologi.

Steno menyadari bahwa proses geologi lainnya dapat membuat pengecualian hukum yang jelas tentang superposisi dan horinzontalitas. Dia beralasan bahwa pembentukan gua bisa menghapus bagian dari lapisan yang lebih lebih rendah, dan bahwa keruntuhan gua mungkin transportasi potongan besar dari lapisan atas ke bawah. Dia mengakui bahwa mungkin batuan terangkat oleh pasukan bawah tanah. Ahli geologi sekarang mengakui bahwa tilting, lipat, dan faulting juga dapat mempersulit analisis dari suatu urutan stratigafi. Batuan cair dapat memaksa jalan melalui batuan sekitarnya dan kadang-kadang dapat menekan antara lapisan batuan yang lebih tua, juga membentuk pengecualian hukum Steno itu. Namun, anomali tersebut meninggalkan bukti fisik dalam batuan terganggu, misalnya, lapisan batu disalahkan mungkin retak, rusak, atau bermetaforsa sepanjang garis patahan.

Hal ini juga harus diingat bahwa hukum Steno adalah pernyataan waktu relatif, tidak absolut waktu: dua lapisan batuan, pada prinsipnya, dapat terbentuk jutaan tahun terpisah atau beberapa jam atau hari terpisah. Steno sendiri melihat tidak ada kesulitan dalam menghubungkan pembentukan batuan paling banjir disebutkan dalam Alkitab. Namun, ia melihat bahwa, dari dua jenis batuan utama di Pegunungan Apennine dekat Florence, lapisan bahwa tidak memiliki fosil, sedangkan bagian atasnya kaya fosil. Dia menyarankan bahwa lapisan atas telah terbentuk di Banjir, setelah penciptaan kehidupan, sementara yang lebih rendah telah terbentuk sebelum kehidupan telah ada. Ini adalah penggunaan pertama geologi untuk mencoba membedakan periode waktu yang berbeda dalam sejarah Bumi - suatu pendekatan yang akan mengembangkan spektakuler dalam pekerjaan ilmuwan kemudian.

Steno ditinggalkan dasarnya ilmu pengetahuan setelah konversi ke Katolik Roma pada tahun 1667, banyak yang kecewa dari beberapa rekan ilmiah. Dia ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1675. Pada 1667, ia menjadi seorang uskup tituler, dan menghabiskan sisa hidupnya melayani minoritas populasi Katolik Roma di utara Jerman, Denmark, dan Norwegia. Ia tidak pernah menulis karya besar yang Prodromus nya dimaksudkan untuk melayani hanya sebagai pengantar. Namun Prodromus singkatnya diakui sebagai kontribusi yang penting dalam dirinya sendiri, melainkan banyak beredar dan diterjemahkan ke dalam bahasa inggris. Data dan kesimpulan yang dikemukakan dalam Steno "wacana awal"-nya sudah cukup untuk telah mendapatkan julukan "Bapak Stratigrafi"



Selasa, 10 Januari 2012

Kei Kecil




Desa

Ngabub Luas (927 Ha)

Ibra Luas (2.446 Ha)

Sathean Luas (2.685 Ha)

Faan Luas (586 Ha)

Langgur Luas (345 Ha)

Kel. Ohoijang-Watdek Luas (96 Ha)

Kolser Luas (488 Ha)

Kelanit Luas (1.321 Ha)

Letman Luas (998 Ha)

OhoiderTawun Luas (2.162 Ha)

Ohoililir Luas (473 Ha)

Ngilngof Luas (655 Ha)

Namar Luas (1.881 Ha)

Ngayub Luas (1.438 Ha)

Debut Luas (680 Ha)

Rumadian Luas (520 Ha)

Dian Luas (929 Ha)

Letvuan Luas (841 Ha)

Evu Luas (2.282 Ha)

Warwut Luas (1.993 Ha)

Wab Luas (809 Ha)

Tetoat Luas (916 Ha)

Pulau

P. Kei Kecil/P. NuhuRoa Semua Desa

P. Godan Desa OhoiderTawun

P. Er Desa OhoiderTawun

P. Ngaf Desa Ngilngof

P.Haeh Desa Debut

P. Ohoiwa Desa Debut

P. Hutir Desa Debut

P. Nai Desa Debut

P. Hoat Desa Debut

P. Lea Desa Debut

P. Tangwain Desa Debut

P. Labulin Desa Debut

P. Wearhu Desa Tetoat

P. Toad Desa Dian

P. Daar Desa Ibra

P. Bararan Desa Ibra

P. Watlus Desa Sathean

Kei Kecil Timur


Desa

Ohoiseb Luas (1.610 Ha)

Danar Ternate Luas (435 Ha)

Lumefar Luas (516 Ha)

Ngursoin Luas (435 Ha)

Elaar Lamagorang Luas (526 Ha)

Elaar Let Luas (524 Ha)

Mastur Luas (1.122 Ha)

Ohoinol Luas (2.442 Ha)

Wain Luas (2.279 Ha)

Abean Luas (832 Ha)

Raat Luas (407 Ha)

Rumat Luas (444 Ha)

Revav Luas (373 Ha)

Pulau

P. Kei Kecil/P. NuhuRoa Semua Desa

Kei Besar


Desa

Ohoiwait Luas (2.034 Ha)

Ohoiel Luas (677 Ha)

Werka Luas (619 Ha)

Ler Ohoilim Luas (678 Ha)

Rahareng Luas (261 Ha)

Waur Luas (192 Ha)

Ngefuit Luas (223 Ha)

Waurtahit Luas (169 Ha)

Yamtel Luas (231 Ha)

Ohoinangan Luas (223 Ha)

Elat Luas (306 Ha)

Depur Luas (69 Ha)

Ohoilim Luas (579 Ha)

Fako Luas (2.075 Ha)

Reyamru Luas (2.438 Ha)

Elralang Luas (2.455 Ha)

Weer Ohoinam Luas (1.946 Ha)

Faa Luas (1.633 Ha)

Uwat Luas (2.530 Ha)

Mun Ohoitadium Luas (2.773 Ha)

Ad Wearaur Luas (5.669 Ha)

Pulau

P. Kei Besa/P. NuhuYut Semua Desa

P. Kelapa Desa Ler Ohoilim

P. Ivat Desa Elat

P. Kerot Desa Elat

Kei Besar Utara Timur


Desa

Kilwaer Luas (2.085 Ha)

Hollat Luas (3.267 Ha)

Ohoifau Luas (1.453 Ha)

Watlaar Luas (1.751 Ha)

Banda Ely Luas (1.628 Ha)

Renfan Luas (1.588 Ha)

Langgiar Haar Luas (1.233 Ha)

Haar Ohoinel Luas (1.940 Ha)

Ohoiraut Luas (819 Ha)

Pulau

P. Kei Besar/P. Yut Semua Desa

Kei Besar Selatan


Desa

Weduar Feer Luas ( 971 Ha)

Langgiar Feer Luas (306 Ha)

Feer Luas (1.264 Ha)

Kilwat Luas (1.210 Ha)

Ngafan Luas (780 Ha)

Sungai Luas (1.177 Ha)

Tamngil Nuhuyanat Luas (1.119 Ha)

Sather Luas (1.329 Ha)

Tutrean Luas (829 Ha)

Weduar Luas (323 Ha)

Tamngil Nuhuten Luas (499 Ha)

Larat Luas (522 Ha)

Nerong Luas (731 Ha)

Ohoirenan Luas (747 Ha)

Pulau

P. Kei Besar/P. Yut Semua Desa

Kei – Kecil Barat


Desa

Ohoidertutu luas (2.199 Ha)

Madwaer luas (1.020 Ha)

Somlain luas (573 Ha)

Ohoiren luas (470 Ha)

Ohoira luas (820 Ha)

Ur Pulau luas (1.773 Ha)

Tanimbar Kei luas (1.270 Ha)

Warbal luas (1.272 Ha)


Pulau

P.Kei Kecil/P. Nuhu Roa Desa Ohoidertutu, Madwaer, Somlain, Ohoira, Ohoiren

P. Lik Desa Warbal

P.Tarwa Desa Warbal

P. Labulin Desa Warbal

P. Waha Desa Warbal

P. Manir Desa Warbal

P. Warbal Desa Warbal

P. Ur Desa Ur Pulau

P.Ujir Desa Ur Pulau

P. Nuhuta Desa Tanimbar Kei

P. Var Desa Tanimbar Kei

P. Ngirit Desa Tanimbar Kei

P. Silar Desa Tanimbar Kei

P. Witir Desa Tanimbar Kei

ROTI JALA TEPUNG PISANG GULAI AYAM

Untuk : 5 Porsi

1 Porsi : 284 kalori

Bahan Roti Jala :

- 50 gr tepung pisang

- 50 gr tepung terigu

- 2 btr telur ayam

- 500 ml santan encer

- Sedikit garam

- 1 sdm mentega dilelehkan

Gulai ayam :

- 250 gr daging ayam (5 potong)

- 500 ml santan

- 1 sdm minyak utk menumis

- 2 lbr daun jeruk

- 1 btg sereh

- 1 iris lengkuas

Bumbu yang dihaluskan :

- 1 ruas jahe

- 5 buah kemiri

- 5 siung bawang putih

- 2 bh cabai merah

- 5 bh bawang merah

- 1 iris kunyit

- Garam secukupnya

Cara Membuat :

1. Campur tepung pisang dan tepung terigu, pecahkan telur ayam, tuangi santan sedikit demi sedikit sampai habis sambil diaduk, beri mentega leleh, aduk.

2. Ambil wajan dadar teflon, panaskan lalu buat dadar seperti jala memakai contong sampai adonan habis (kira2 20 lembar), sisihkan.

Cara membuat gulai ayam :

1. Tumis bumbu yang telah dihaluskan bersama sereh, daun jeruk dan lengkuas dgn minyak.

2. Masukan ayam, masak hingga bumbu meresap , masukan santan, masak hingga mendidih dan ayam empuk ,angkat.

3. Hidangkan roti jala dan gulai ayam.

MUFFIN TEPUNG PISANG

Untuk : 15 buah

1 buah : 164 Kalori

Bahan :

- 6 btr Telur ayam pisahkan bagian putih & kuningnya

- 75 gr Margarin

- 75 gr Gula Pasir

- 50 gr Tepung Pisang

- 100 gr Tepung Terigu

- 100 gr Pisang Ambon, dihaluskan dgn menambahkan air jeruk lemon

- 1 sdm Air Jeruk lemon

- 100 gr keju dipotong dadu kecil

- Vanili secukupnya

- ½ sdt baking powder

- 100 gr pisang ambon dipotong bundar untuk hiasan

- 50 gr keju parut untuk taburan

Cara Membuat :

- Kocok putih telur sampai kaku

- Kocok margarin dan gula Pasir, masukan kuning telur satu per satu, kocok sampai kental, tambahkan pisang yang sudah dihaluskan, angkat mixernya.

- Campurkan tepung pisang bersama tepung terigu , potongan keju ,vanili dan baking powder, masukan ke adonan yang telah dimixer, aduk rata terakhir masukan putih telur yang telah dikocok kaku, aduk rata.

- Siapkan cetakan muffin, beri kertas mangkok , tuangi adonan ke dalamnya, lalu beri atasnya potongan pisang dan parutan keju, panggang dalam oven sampai masak dgn panas medium ( selama 30 menit), angkat.

- Setelah agak dingin, keluarkan dari cetakan.

- Hidangkan.

Jumat, 06 Januari 2012

Cinta karena hati memikat

Cinta karena pandangan

Kemarahan menutupi semua teory

Segalanya diuangkan

Banyak setan berkeliaran sedang berteriak kesana kemari

Dipusingkan

Muncul sebuah nyanyian melody

Nufit Harnangan

Nufit Harngan yang dikuasai Hala'ai/Rat KANEW bernama LAMUTAN YAMTEL berdemosili di SITHARNOL bernama tiga marga antara lain; marga LOBYA, marga TETOAT,marga OHOITIMUR.
Diberinya nama gelaran Hala'ai/Rat KANEW oleh karena setiap kali berjalan mengunjungi rakyat dalam wilayah kekuasaannya ia memakai tongkat batang pohon KANEW.
Rakyatnya dinamakan BIBTET RATSIW karena pada perjalanan mengunjungi rakyatnya itu ia berkendaraan seekor KAMBING (BIB).

Pada masa kekuasaan Raja/Rat LAMUTAN Yamtel terjadinya pembunuhan dua orang bersaudara, NAR'AHA dan FANEV WAURTAHIT asal kampung Ohoideryamlim.
Pembunuhan dilakukan oleh LOR BIBTET RATSIW atas perintah Rat Kanew berdasarkan Hukum yang berlaku di daerah ini.
Pembunuhan ini terjadi akibat perbuatan NAR'AHA dan FANEV, melakukan pelanggaran kejahatan/penghianatan terhadap DIT SAKMAS istri (permaisuri) HALA'AI ARNUHU SUARUBUN.
Keduanya (Nar'aha - Fanev) ditangkap, diikat pada batang tiang AI NUM di satu tempat tepi teluk Ohoidom marang berdekatan dengan Sitharnol. Mereka dijerahi sampai mati. Tempat itu dinamakan NUUT AI NUM.
Setelah itu Hala'ai/Rat KANEW, menyuruh rakyat BIBTET RAT SIW ke kampung Ohoideryamlim menuntut orang tua kedua korban TESU EVAV WAURTAHIT mas tebusan atas kesalahan perlakuan/perbuatan anak2nya. Perjalanan utusan Bibtet Ratsiw menuju ke Ohoideryamlim (kini disebut Ohoitom)mereka beristirahat pada satu tempat dibawah pohon beringin dipetuanan Ser Sevav, sesudah itu mereka meneruskan perjalanan ke kampung Ohoideryamlim. Pohon beringin yang mereka istirahat dibawanya itu diberi nama VUVU BIBTET RATSIW.
Setelah utusan Bibtet Ratsiw bertemu orang tuanya NAR'AHA dan FANEV mereka menyampaikan pesanan Rat Kanew.
Orang tua kedua korban (Nar'aha Fanev) ialah TESU EVAV WAURTAHIT menyerahkan kepada utusan BIBTET RAT SIW 3 (tiga) buah mas antara lain; 1. Mas NGARUV TESU, 2. mas A FEMAT, 3. mas A SALNGATAN/HENAN. untuk menebus dan meloloskan anak-anaknya dari ancaman pembunuhan, akan tetapi anak-anaknya telah mati terbunuh.

Utusan Lor Bibtet Ratsiw langsung kembali ke Sitharnol, menyerahkan ketiga mas asal TESU EVAV WAURTAHIT bapa dari kedua koeban kepada RAT KANEW.

Masa kekuasaan RAT LAMUTAN YAMTEL berakhir karena wafat. diganti oleh putranya bernama FUAK YAMTEL.

Pada masa kekuasaan Rat Fuak Yamtel terjadi peperangan SITHARNOL dengan LAAR I TEL (Limngoran). Saling serang menyerang. Terakhir Sitharnol diserang secara diam-diam hingga Rat Fuak Yamtel dipanah dan wafat. maka masyarakatnya cerai berai, kerajaannya runtuh.

Marga LOBYA TETOAT dan OHOITIMUR berpindah pemukimannya yang baru dengan memberi nama YATVAV.



Nara Sumber: RAT MANTILUR KISU WAIT VI
review www.5power.blogspot.com on alexa.com